Kecil Tidak Berarti Kecil

Sebuah kisah terjadi di hadapanku dengan begitu jelas. Seorang anak, muridku yang banyak orang remehkan kemampuannya. Perawakannya yang kecil, matanya yang selalu sayu dan jua tingkah polahnya yang begitu dingin. Murid lelaki yang dipandang sebelah mata oleh hampir semua orang bahkan oleh wali kelasnya, diriku sendiri. Namanya adalah Ridwansyah. Orang yang bahkan selama setahun ini jarang ada yang mendekati, karena sifatnya yang dingin, pendiam dan cenderung pemalu.

Hari Senin, saat itu bertepatan dengan tanggal 2 Juni 2014. Hari itu adalah hari terakhir aku masuk ke kelas X TKJ 1. Maka seperti biasa, kuberikan kesempatan bagi anak-anak untuk curhat, ataupun berkelakar di depan kelas satu persatu. Takutnya mungkin di hati masing-masing ada unek-unek yang ingin disampaikan kepada temannya. 

Satu persatu telah menyampaikan curahan hatinya, ada yang bercerita, ada yang merasa kecewa, ada pula yang beruraian air mata. Sampai tiba masa dimana Ridwansyah mendapatkan giliran untuk berbicara. Semua mata tertuju padanya, ada rasa penasaran, akupun sudah menyiapkan tawa - picik sekali. Sampai pada akhirnya dia berkata dengan sangat luar biasa:

"Assalammu'alaikum pa, kawan-kawan,  terima kasih atas kesempatannya. Sebenarnya saya pun ingin punya banyak teman, ingin pula gaul bersama kalian. Larut dalam canda tawa dan kebersamaan. Di sini saya merasakan kenyamanan, karena banyak yang telah mau menerima saya. 
Jujur pa, selama saya SD sampai kelas 7 SMP saya adalah orang yang membuka diri, senang bercanda, punya banyak teman. Tapi itu berubah ketika saya masuk kelas 8 SMP banyak orang yang menjelek-jelekkanku bahkan ada yang bilang aku IDIOT. Itu terus terjadi sampai saya lulus SMP. Saya masih TRAUMA, bahkan ketika saya masuk lingkungan baru di sini, saya masih takut.
Tapi pa, sesuai apa yang katakan saya pun memiliki keinginan untuk bisa dekan dengan kawan-kawan semua. Saya sekarang terus belajar, banyak sekali pembelajaran kehidupan yang bisa saya ambil dari sini. 
Kini saya memiliki prinsip seperti uang 100 rupiah. Tahukah kita tentang uang 100 rupiah, banyak orang yang membuangnya bahkan meremehkannya. Tapi takkan pernah menjadi 1.000.000 jika kurang 100 rupiah. Saya pun berusaha menjadi uang 100 rupiah. Walaupun saya DIREMEHKAN tapi saya masih bisa BERHARGA DAN BERMANFAAT bagi yang lain.
Saya pun ingin sekali bisa menghargai WAKTU PER DETIK, menghindari rasa malas dan berleha-leha terhadap waktu. Tapi jika saya tidak bisa menghargai waktu perdetik, maka saya harus bisa memanfaatkan WAKTU YANG LIMA, yaitu SHALAT tepat dengan waktunya."

Subhanallah, Semoga Allah mengistiqomahkan kamu nak.